Sentuhan Penuh Harapan

Di usia Juan yang akan memasuki lima tahun pada tahun ini, saya dan suami berencana ingin memulai program kehamilan selanjutnya. Hal ini membuat saya kembali mengingat proses kelahiran Juan. Mengingat tubuh kecilnya, tangisannya sampai dengan ketakutan menggendong dirinya. Juan bayi sangat kecil, adegan memandikan bayi pun menjadi sesuatu yang sangat saya khawatirkan selama 5 hari pertama sampai dengan pusarnya puput.

17103249_10210612341483550_4583711438670945391_n

Di lima hari pertama, saya pun harus memanggil suster rumah sakit untuk memandikan Juan dirumah. Suster yang baik ini mengajarkan saya memijat dan memandikan Juan. Pada awalnya saya kurang begitu tau manfaat memijat bayi ini, karena melihat anak sudah mandi dan dipakaikan baju bersih dan lucu sudah cukup untuk saya. Rupanya lebih dari itu dan baru sekarang saya memahaminya.

Dimulai dengan pengetahuan yang baru saja saya dapat, rupanya 28 hari pertama bayi dilahirkan merupakan masa paling krusial dalam kehidupan seorang bayi dan ini dikenal dengan fase neonatal. Dimana pada fase ini, bayi mengalami perkembangan juga perubahan lingkungan yang drastis. Setelah 9 bulan lamanya bayi berada di dalam kandungan, setelah lahir bayi harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Berdasarkan data WHO pada tahun 2015 terdapat sekitar 70.000 bayi di Indonesia yang kehilangan nyawanya sebelum menginjak usianya yang ke 28 hari dan salah satu faktornya adalah kurangnya perhatian terhadap perawatan kulit selama masa neonatal yang menyebabkan sepsis pada kulit bayi. Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) ada lebih dari 1 juta kasus sepsis setiap tahunnya dan di Indonesia sendiri ada ribuan kematian bayi yang diakibatkan sepsis melalui kulit pada 2015.

Kematian bayi pada masa neonatal dapat dicegah dengan memberikan perawatan kulit yang tepat dan efektif. Dr Bernie Endiarini Medise, Sp.A(K), MPH, Dokter Spesialis Anak mengatakan, “Selama masa neonatal, kulit bayi sangat sensitif, maka dari itu diperlukan perawatan kulit yang efektif dan tepat bagi bayi di masa neonatalnya. Kandungan emollient yang digunakan dalam perawatan kulit bayi dapat mencegah terjadinya kulit kering/TEWL ( Transepidermal Water Loss). Disampin itu, sentuhan ibu selama masa neonatal sangatlah penting, karena selain dapat memperlancar peredaran darah bayi dan juga meningkatkan imunitasnya, sehingga bayi akan lebih sehat, dapat bertumbuh dan hidup lebih panjang.

Seperti Dr. Barnie sebutkan diatas, suster yang mengajarkan saya memandikan dan memijat bayi pun mengatakan pijatan pada bayi mengurangi rasa gelisah pada bayi. Dan lebih dari itu, pijatin pada bayi ini memberikan manfaat yang tidak hanya diperoleh oleh bayi, orang tua pun mendapatkan manfaat memijat bayi ini.

Pijatan pada bayi dapat membantu bayi tumbuh dan berkembang dengan lebih baik, membantu proses pencernaan, dapat membuat kualitas & kuantitas tidur lebih baik, membantu perkembangan otak, memperkuat system imun dan sampai dengan membuat bayi bahagia. Saya jadi ingat setiap pijatan yang saya lakukan diikuti percakapan saut-sautan yang tidak jelas dari Juan namun saya sepertinya mengerti apa yang digumamkannya ^^, Juan happy. Sedangkan untuk saya sendiri memijat Juan membuat saya sedikit demi sedikit kembali percaya diri.

Rahasia Sentuhan Ibu infographic

Kondisi neonatal ini pun akhirnya menjadi catatan penting bagi saya dalam mempersiapkan kehamilan kedua ini, sama halnya dengan JOHNSON’S® Baby yang sedang mengkampanyekan “JOHNSON’S® Baby Sentuhan Penuh Harapan”. Dimana JOHNSON’S® Baby membantu menyebarluaskan pentingnya sentuhan dan pijatan ibu terhadap bayi selama masa neonatal. Sehingga JOHNSON’S® Baby mengajak para ibu untuk menyebarkan kesadaran mengenai Sentuhan Penuh Harapan.

Beberapa ibu sekaligus teman dan sahabat saya berbagi mengenai cerita sentuhan ibu  memalui pijatan dan sentuhan saat mandi kepada bayinya melalui media sosial yang dimilikinya dan beberapa ibu-ibu lain ikut berkontribusi dalam pembelian produk JOHNSON’S® Baby jenis apapun sebesar Rp. 25.000,- di seluruh gerai Alfamart di Indonesia. Sehingga JOHNSON’S® Baby bersama Alfamart dapat mendonasikan Rp. 500,- untuk Save the Children. Dengan ini saya dan ibu-ibu lain yang mengetahui fase krusial hidup bayi di masa neonatalnya, ingin memberikan kontribusi bantuan dan juga harapan bagi bayi yang kurang beruntung di Indonesia agar tetap hidup, tumbuh dan melihat dunia.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai “JOHNSON’S® Baby Sentuhan Penuh Harapan”, ibu dan teman-teman semua dapat mengakses info dari akun media sosial JOHNSON’S® Baby yaitu @johnsonsbaby_id (Instagram), @JohnsonsBaby_ID (Twitter) dan JohnsonsBabyIndonesia (Facebook)

 

Mengingat Kembali Masa Menyusui & MPASI

Dalam rangka mendukung Pekan ASI Sedunia 2016 lalu, saya medapati banyak informasi yang berguna seputar ASI dan MPASI (Makanan pendamping ASI). Ikatan Dokter Anak Indonesia yang mengadakan seminar pada waktu itu mengangkat tema “Menyusui: Kunci Menuju Pembangunan Berkelanjutan”. Dengan berada di seminar tersebut membuat saya kembali mengingat masa-masa menyusui dan MPASI diwaktu silam.

Diriku terfokus pada tips sukses menyusui yang berawal dari persiapan sebelum persalinan. Jujur sewaktu diriku hamil, seandainya salah seorang sahabat suami tidak menghadiahkan buku ID Ayah ASI, mungkin kami akan lemah terhadap mitos menyusui dan akan mengikuti mitos turun temurun yang diberikan oleh orang tua kami. Dari buku ID Ayah ASI, dirikupun mengenal inisiasi menyusu dini (IMD) segera setelah bayi lahir. Dari seminar ini saya baru mengetahui kalauuu… proses IMD ini dibiarkan berlangsung setidaknya 1 jam atau sampai bayi menyusu untuk pertama kalinya. Kenyataannya, saya mengalami tidak sampai 30 menit *sad*. Menurut Satgas ASI IDAI (2011) IMD kontak kulit-ke-kulit yang tidak lebih dari 30 menit terjadi sebanyak 87% ( yak sepertinya saya salah satu dalam hitungan persen ini).

 

Lalu di tips sukses menyusui disebutkan juga ibu dan bayi seharusnya di rawat gabung selama 24 jam sehingga ibu dapat memberikan kesempatan menyusu sesuai tanda lapar bayi (minimal 8-12 kali/hari). Ketika melahirkan saya dan bayi ditempatkan di ruang berbeda. Di rumah sakit saya bersalin, hanya ruangan VIP saja yang bisa rawat gabung dengan si bayi. Untuk kelas-kelas ruangan lain, ibu dan bayi dipisah.

Tips sukses menyusui juga menyebutkan tidak ada minuman/makanan lain selain ASI selama 6 bulan usia bayi. Duh, ada yang punya pengalaman bayi menangis terus menerus dan keluarga yang mendengar mengatakan “Bayinya lapar tuh, udah kasih makan aja… pisang dikerok” ^^!. Jujur saya pernah mengalami momen ini dan pernah juga mendengar beberapa cerita teman yang mengalaminya. Untung saya berkeras hati, tetap memberikan bayi saya hanya ASI sampai 6 bulan usianya.

Tips sukses selanjutnya disebutkan tidak ada penggunaan botol-dot. Buat teman-teman yang memang ingin menyusui langsung selama 2 tahun dan merasa nyaman yah monggo. Saya waktu itu terpaksa berdampingan dengan dot, bahkan bayi saya harus mendapatkan donor ASI karena saya harus dirawat waktu itu.

Pemantauan berkala terhadap proses menyusui dan kondisi bayi, serta sebelum ibu dan bayi pulang dari fasilitas kesehatan pastikan ibu telah menyusui dengan baik serta tidak ada tanda infeksi/dehidrasi/kuning pada bayi.

Nah kesemua tips ini sepertinya akan menguap begitu saja jika kita sebagai orang tua tidak kekeuh menjalankannya dan menuntut itu semua. Dukungan menyusui ini perlu terus ditingkatkan loh, baik dari pemerintah, masyarakat, media, tenaga kesehatan juga keluarga dari pihak ibu dan ayah *senyumnya mana ibu-ibuk*.

Saya berdoa semoga dukungan pemerintah dapat memberikan waktu cuti ibu melahirkan sampai dengan enam bulan setelah bayi mendapatkan ASI eksklusifnya (((Aamiin))). Media dapat memberikan semua artikel-artikel yang membuat ibu-ibu semakin termotivasi menyusui bayinya. Tenaga kesehatan yang membantu mengedukasi para ibu baru untuk belajar menyusui juga memberikan kesempatan IMD bagi ibu dan bayi lebih lama lagi *masih ga terima IMD saya sebentar, tidak lebih dari 30 menit*. Last but not least, ini untuk keluarga dari pihak ayah ataupun pihak ibu si bayi… tolong kurangi informasi yang bersifat menyesatkan, dukung kedua orang tua bayi dengan memberi semangat dengan kata-kata yang positif. *oke sip*

Selanjutnya, melanjutkan rekomendasi WHO, standar emas makanan bayi setelah mendapatkan kesempatan IMD dan ASI eksklusif selama enam bulan adalah pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) untuk melengkapi kebutuhan energi, zat besi, zinc, vitamin A dan mikronutrien lainnya sambil tetap melanjutkan menyusui hingga bayi berusia dua tahun atau lebih.

Saya dulu mabok masalah MPASI ini, saya berfikir bayi saya ini picky eater. Rupanya banyak yang saya skip tentang MPASI ini.

Pertama orang tua harus tahu terlebih dahulu tujuan pemberian makanan kepada bayi yaitu untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. MPASI melengkapi nutrisi yang tidak cukup dari ASI saja. Selanjutnya MPASI melatih keterampilan makan bayi dan nantinya dapat membentuk kebiasaan makan sehat yang rupanya ini harus dipelajari. Selain itu MPASI menjadikan waktu makan sebagai waktu interaksi orangtua dan anak. Saya teringat setiap waktu makan Juan adalah waktunya saya mengoceh apa pun untuk membuat anak saya membuka mulut dan melahap makanannya.

Saat memberikan makanan pastikan bayi telah siap makan, terlihat dengan kepala yang sudah tegak, duduk dengan bantuan, tertarik melihat orang makan, mecoba meraih makanan, membuka mulut jika diberikan makan. Dan perlu diingat, rupanya ketika memberikan bayi makan dan bayi melepeh itu belum tentu si bayi tidak suka loh. Keep feeding.

Lalu apa yang harus diberikan? mulailah dengan makanan lumat dengan konsistensi halus atau saring, bertahap dirubah mulai dari agak encer menjadi dikentalkan. Selanjutnya naikan tekstur bertahap, bubur kasar tidak disaring, finger food, makanan lunak dengan lauk cincang selanjutnya makanan keluarga. Pastikan makanan mengandung karbohidrat, lemak, protein hewani agar masa otot bayi berambah serta mengandung mineral dan vitamin  terutama zat besi, zink dan vitamin A.

Sekarang bagaimana cara memberikan MPASI? waktu Juan bayi jadwal memberikan makan ini tidak teratur, mulai dari keteteran mempersiapkan menu, menyiapkan bayi dan perlengkapan makannya lalu sampai pada akhirnya anaknya malah nangis dan maunya menyusu. Baiklah supaya tidak mengulang masa suram saya dulu, maka buatlah jadwal makan. Ini harus dilakukan, saya dengan alasan sendirian waktu itu selalu tidak tepat waktu membuat jadwal makan. Maka buatlah jadwal makan yang terencana. Pengenalan makanan kepada bayi membutuhkan 10-15 kali mencoba, saya baru dua kali gagal sudah menyerah *hiks! jangan ditiru ibu-ibuk*. Perhatikan tanda lapar dan kenyang, jangan pernah memaksa anak makan oleh karena itu perlu sekali mengetahui tanda lapar dan kenyang bayi.  Terakhir, pastikan kebersihan saat mengolah, menyiapkan dan memberikan MPASI.

Panduan MPASI

Nah beberapa mitos dan fakta ini pun selalu muncul untuk para ibu yang lagi semangat memberikan MPASI.

  1. Berikan sumber karbohidrat saja tunda pemberian daging sampai usia 8-10 bulan. Faktanya, tidak perlu ada penundaan cukup berikan satu persatu.
  2. Tunda pemberian ikan, telur sampai 1 tahun. Faktanya, menunda tidak mempengaruhi sebab alergi. Tidak perlu menunda jenis makanan tertentu kecuali terbukti alergi
  3. Hati merupakan organ yang penuh racun, jangan diberikan kepada bayi. Faktanya, hati sumber zat besi baik.
  4. Kenalkan sayur dahulu baru buah. Faktanya, dapat dikenalkan bersamaan.
  5. Belum tumbuh gigi jangan memberikan makanan bertekstur. Faktanya, keterampilan makan tetap diajarkan dari usia 8-10 bulan.
  6. Jangan menambah gula atau garam. Faktanya, gula dan garam dapat diperkenalkan menjelang bayi berusia 1 tahun, karena gula sumber energi dan garam sebagai pengikat lemak  baik untuk  masa pertumbuhan, hanya pemberiannya yang harus dibatasi. Rasa asin dari garam juga dapat diganti dengan menambahkan keju pada menu MPASI.

 

Dan……. alhamdulillah selesai juga saya menjabarkannya, ini akan menjadi catatan bagi diri saya juga karena merasa perlu untuk diingat kedepannya nanti, terus terang riwayat MPASI saya bersama Juan failed banget. Semoga blog ini dapat menjadi acuan beberapa teman yang sedang mempersiapkan kelahiran sang buah hati serta mempersipakan MPASI bagi para bunda-ibu-mama-mommy dimanapun kalian berada *HUG*

IMG_1693

Dan tidak kalah penting nih, keterangan Ikatan Dokter Anak Indonesia dan hal-hal terkait kesehatan anak dapat dilihat di www.idai.or.id atau laman Facebook Ikatan Dokter Anak Indonesia atauuuu follow @idai_tweets

 



			
		

Keajaiban Menyusui

Judul diatas saya ambil dari acara yang saya hadiri pada tanggal 3 Agustus tahun lalu. Lama sekali ^.^!, maafkan ya…memang ada beberapa post tahun lalu yang bermanfaat menurut saya untuk di share, tapi agak lama. Pokoknya minta maaf ya, monggo lanjutkan membacanya.

Pada 3 Agustus tahun lalu , saya menghadiri acara dengan tajuk Keajaiban Menyusui. Acara yang diselenggarakan oleh MCA-Indonesia @america yang turut menghadirkan Sigi Wimala, Sogi Indra Dhuaja untuk berbagi pengalaman seputar ASI dan menyusui. Hadir juga dr. Falla Adinda, dokter konselor laktasi dan Iing Mursalin, Wakil Direktur Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mengurangi Stanting (PKGBM) MCA-Indonesia.

20160803_083104565_iOS

Ada dua hal yang menjadi perhatian saya dari bincang-bincang yang sangat informatif hari itu, yang pertama ASI dan kedua stanting. Dimana keduanya sangat berkaitan. Informasi mengenai ASI sekarang sudah banyak diperoleh dimanapun (untuk mereka yang mau mencari tahu) dan pastinya akan menemukan berbagai artikel mengenai manfaat ASI, karena ASI tidak memiliki kekurangan, saya pun sebagai salah seorang ibu pemberi ASI kepada anaknya akan mengatakan manfaatnya buanyak. Sayangnya hal tersebut tidak diikuti oleh kesadaran beberapa orang tua, hal ini diketahui dari jumlah orang tua yang memberikan anaknya ASI masih 45% *sad*

Untuk bayi, ASI adalah adalah faktor utama agar pertumbuhan otak, fisik dan emosinya optimal. Menyusui juga akan mendukung bayi dan anak-anak mendapatkan gizi terbaik dalam 1000 hari pertamanya. Karena ASI memenuhi kebutuhan gizi bayi dengan kandungan yang komplit: air, karbohidrat, protein, lemak, karnitin, 6 macam vitamin, kolostrum (di hari-hari pertama bayi menyusu). Fakta globalnya, kurang gizi termasuk menyusui yang tidak memadai, merupakan penyebab 45% dari seluruh kematian anak balita setiap tahunnya. Inisiasi menyusui dini, ASI eksklusif juga berkontribusi mengurangi risiko obesitas. Perekonomian sendiri terpengaruh dengan kegiatan menyusui ini, dimana keluarga di seluruh dunia menghabiskan sekitar $45 miliar per tahun untuk membeli susu formula. Dan rupanya dengan menyusui dan memberikan ASI secara optimal dengan standar WHO, Indonesia dapat menyelamatkan 5.377 tambahan nyawa anak-anak per tahun dan mencegah 803 kematian ibu setiap tahun karena kanker payudara.

Luar biasa sekali kan keajaiban menyusui ini, selain baik untuk bayi, anak, orang tua juga para ibu pastinya.

Selanjutnya stanting (tinggi badan dibawah standar usianya), seperti saya sebutkan sebelumnya, ASI dan stanting cukup berkaitan. Bentuk paling umum dari malnutrisi, dapat terjadi sejak bayi lahir dan makin parah dengan cepat sampai bayi berusia 24 bulan padahal masa-masa tersebut adalah peluang emas untuk pertama kehidupan dari pembuahan sampai bayi berusia 2 tahun. Asi adalah investasi awal untuk mencegah berat badan lahir rendah, mencegah stanting.

Selain dengan ASI, stanting dapat dicegah sedini mungkin mulai dari ibu hamil, dengan memakan makanan yang cukup gizi. Dengan selalu mengukur tinggi, berat badan bayi dan anak secara teratur untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan sejak dini. Serta memiliki akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, juga lingkungan yang selalu bersih.

Jadi ibu-ibu dan teman-teman semua, pertumbuhan bayi dan anak kita akan sangat optimal jika hal-hal diatas yang sudah saya tuliskan dapat menjadi perhatian setiap orang tua. Marilah menjadi salah satu bagian dari keajaiban menyusui dan perhatikan terus pertumbuhan anak-anak kita ya.

sumber:

·          Breastfeeding, A Key to Sustainable Development, World Breastfeeding Week Action Folder.

·          Breastfeeding, A Key to Sustainable Development UNICEF, Kementrian Kesehatan, Alive & Thrive

·          Final Report Formative Research in Stunting in Indonesian Communities, MCA-Indonesia.